Uang berkata pada saya
KENALKAN
Namaku : UANG
Nama panggilan : DUIT
Nama ukhuwah : FULUS
Nama tenar : MONEY
Wajahku biasa saja, fisikku juga lemah, namun aku mampu merombak tatanan dunia.
Aku juga "bisa" merubah Perilaku, bahkan sifat Manusia' karena manusia mengidolakan aku.
Banyak orang merubah kepribadiannya, mengkhianati teman, menjual tubuh, bahkan meninggalkan keyakinan imannya, demi aku!
Aku tdk mengerti perbedaan orang saleh & bejat, tapi manusia memakai aku menjadi patokan derajat, menentukan kaya miskin & terhormat atau terhina.
Aku bukan iblis, tapi sering orang melakukan kekejian demi aku.
Aku juga bukan org ketiga, tapi banyak suami istri pisah gara2 aku, kakak dan adik beradu dan saling benci karena aku.
Anak dan orangtua berselisih gara2 aku.
Sangat jelas juga aku bukan Allah, tapi manusia menyembah aku seperti Allah, bahkan kerap kali hamba2 Allah lebih menghormati aku, padahal Allah sudah pesan jangan jadi hamba uang..
Seharusnya aku melayani manusia, tapi kenapa malah manusia mau jadi budakku?
Aku tidak pernah mengorbankan diriku untuk siapa pun, tapi banyak orang rela mati demi aku.
Perlu aku ingatkan, aku hanya bisa menjadi alat bayar resep obat anda, tapi tidak mampu memperpanjang hidup anda.
Kalau suatu hari anda dipanggil Allah, aku tidak akan bisa menemani anda, apalagi menjadi penebus dosa2 anda, anda harus menghadap sendiri kepada sang Pencipta lalu menerima penghakimanNYA.
Saat itu, Allah pasti akan hitung2an dengan anda, APAKAH SELAMA HIDUP ANDA MENGGUNAKAN aku dengan baik, atau sebaliknya MENJADIKAN aku sebagai Allah?
Ini informasi terakhirku:
Aku TIDAK ADA DI SURGA,
Jadi jangan cari aku disana.
SARANKU :
1. Jangan terlalu sayang sama aku.
2. Jangan lupa Zakat, Infak, Shodaqoh agar aku jadi BERKAH di dunia akhirat
Kamis, 23 Juni 2016
Selasa, 14 Juni 2016
Kisah Sahabat Nabi yang Menyesal Mengerjakan Sholat Shubuh Berjamaah, "Seandainya Lebih Jauh"
Alkisah, ada seorang sahabat Rosululloh Shallalahu ‘alahi wassalam, yang bernama Sya’ban Radhiallahu anhu (r.a). Ia termasuk seorang sahabat yang tidak begitu menonjol bila dibandingkan dengan sahabat-sahabat Rosul yang lainnya.
Kisah ini berawal dari kebiasaan unik beliau, yaitu setiap masuk ke masjid sebelum sholat berjamaah dimulai, dia selalu beri’tikaf di pojok bagian depan masjid. Dia selalu mengambil posisi di pojok bukan karena supaya mudah senderan atau tidur, namun karena tidak mau mengganggu orang lain dan tak mau terganggu oleh orang lain dalam beribadah.
Kebiasaan ini sudah diketahui dan difahami oleh para sahabat, bahkan oleh Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam sendiri, bahwa Sya’ban r.a. selalu berada di posisi tersebut setiap waktu termasuk saat sholat berjamaah.
Suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan dimulai, Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam mendapati bahwa Sya’ban r.a. tidak berada di posisinya seperti yang biasa dia lakukan. Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam pun bertanya kepada jamaah yang hadir, apakah ada yang melihat Sya’ban r.a.
Namun tidak seorangpun jamaah yang melihat Sya’ban r.a. subuh itu. Sholat subuh pun ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban r.a, namun yang ditunggu tidak nongol juga.
Khawatir sholat subuh kesiangan, akhirnya Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam memutuskan untuk segera melaksanakan sholat subuh berjamaah. Selesai sholat subuh, Rasul bertanya, apa ada yang mengetahui kabar dari Sya’ban.
Namun tidak ada seorangpun yang menjawab. Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bertanya lagi, apa ada yang mengetahui di mana rumah Sya’ban r.a. Akhirnya, ada seorang sahabat yang mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui persis di mana rumah Sya’ban r.a.
Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam yang merasa khawatir terjadi sesuatu dengan Sya’ban r.a, meminta diantarkan ke rumah Sya’ban pagi itu. Ternyata perjalanan dengan jalan kaki cukup jauh dan lama juga ditempuh oleh Rasulululloh beserta rombongan, sebelum akhirnya sampai ke rumah yang dimaksud.
Perjalanan rombongan Rasulullah tiba ke rumah yang dituju, saat waktu afdhol untuk sholat dhuha (lamanya kira-kira 3 jam perjalanan). Sampai di depan rumah tersebut beliau lalu mengucapkan salam. Maka keluarlah seorang wanita sambil membalas salam tersebut.
“Benarkah ini rumah Sya’ban?” Rasulullah bertanya.
“Ya benar, saya istrinya” jawab wanita tersebut.
“Bolehkah kami menemui Sya’ban r.a, yang tadi tidak hadir saat sholat subuh di masjid?” Dengan isak tangis dan berlinangan air mata, istri Sya’ban r.a pun menjawab:
“Beliau telah meninggal dunia tadi pagi ya Rosul”
"Innalilahi wa inna ilaihi rojiuun".
Subhanallah!, ternyata satu-satunya penyebab dia tidak sholat subuh berjamaah adalah karena ajal sudah menjemputnya.
Beberapa saat kemudian istri Sya’ban bertanya kepada Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam, “Ya Rasul...!, ada sesuatu yang mengganjal hati kami dan jadi tanda tanya bagi kami sekeluarga, yaitu menjelang kematiannya dia berteriak sampai tiga kali dengan masing-masing teriakan disertai satu kalimat.
"Kami semua tidak paham apa maksudnya, ya...Rosul?”.
“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam.
Di masing-masing teriakannya dia mengucapkan kalimat;
“Seandainya lebih jauh.”
“Seandainya yang baru..“
“Seandainya semua.”
Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam kemudian melantunkan ayat yang terdapat dalam surat Qaaf [50] ayat: 22, yang artinya: “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam“ (Qs.Qaaf [50]:22)
Ternyata, saat Sya’ban r.a dalam keadaan sakaratul maut, perjalanan hidupnya selama di dunia ditayangkan ulang oleh Allah Subhanahu wa Taála. Bukan cuma itu, semua ganjaran dari perbuatannya itu diperlihatkan oleh Allah Subhanahu wa Taála. Apa yang dilihat dan disaksikan oleh Sya’ban r.a (dan orang yang sedang menghadapi sakaratul maut), tidak bisa disaksikan oleh orang lain yang masih hidup.
Dalam pandangannya yang tajam itu, Sya’ban r.a melihat suatu adegan dimana dalam kesehariannya dia pergi-pulang ke masjid untuk sholat berjamaah lima waktu. Perjalanan yang ditempuhnya sekitar 2 jam lebih jalan kaki sudah tentu bukanlah jarak yang dekat.
Dalam tayangan itu pula Sya’ban diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari setiap langkah-langkahnya ke masjid. Dia melihat seperti apa bentuk surga ganjarannya. Maka, saat melihat itu dia lalu berucap:
“ “Seandainya lebih jauh.” ”
Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban r.a, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih banyak dan surga yang didapatkan lebih indah.
"........"
Dalam penggalan kalimat berikutnya, Sya’ban r.a, melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin. Saat ia hendak membuka pintu, tiba-tiba berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang.
Tak lama kemudian dia masuk kembali ke rumahnya mengambil satu baju lagi, untuk dipakainya karena merasa kedinginan. Jadi sekarang dia mengenakan dua buah baju.
Sya’ban r.a, sengaja memakai pakaian yang bagus (yang baru) di bagian dalam dan yang jelek di bagian luar. Pikirnya dalam hati, seandainya nanti terkena debu pun, sudah barang tentu yang terkena debu hanyalah baju yang bagian luarnya, nanti sesampainya di masjid bisa membuka baju luar dan sholat dengan mengenakan baju yang lebih bagus, begitu pikirnya.
Namun dalam perjalanan menuju masjid, dia mendapati seseorang yang sedang terbaring menggigil kedinginan dalam kondisi yang mengenaskan. Sya’ban pun merasa iba melihatnya, kemudian segera membuka baju yang bagian luarnya lalu dipakaikan kepada orang tersebut serta memapahnya bersama-sama menuju masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah.
Orang itu pun terselamatkan dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan sholat berjamaah. Sya’ban r.a pun kemudian melihat indahnya surga sebagai balasan dari memakaikan baju jeleknya kepada orang tersebut.
Kemudian dia berteriak lagi: ““Seandainya yang baru..“" Timbul lagi penyesalan di benaknya.
Jika dengan baju jelek saja bisa mengantarkannya mendapat pahala yang begitu besar, sudah barang tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi,seandainya ia memakaikan baju yang baru.
".........."
Berikutnya, Sya’ban r.a melihat lagi suatu adegan saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke segelas susu. Mungkin, bagi yang pernah pergi ke tanah suci sudah tentu mengetahui sebesar apa ukuran roti Arab (sekitar 3 kali ukuran rata-rata roti di Indonesia).
Ketika ia baru saja hendak memulai sarapan, tiba-tiba muncullah seorang pengemis di depan pintu agar diberikan sedikit roti karena sudah lebih 3 hari perutnya tidak di isi makanan. Melihat kejadian tersebut, Sya’ban r.a merasa iba dan kasihan. Ia kemudian membagi dua roti itu sama besar, demikian pula segelas susu itu pun ia bagi dua.
Kemudian mereka makan bersama-sama dengan roti itu yang sebelumnya dicelupkan kedalam susu, dengan porsi yang sama pula… Allah Subhanahu wa Taála kemudian memperlihatkan pahala dan ganjaran dari perbuatan Sya’ban r.a dengan surga yang indah.
Demi melihat itu dia pun berteriak lagi: ““Seandainya semua.” !” Sya’ban r.a kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut, tentulah dia akan mendapatkan surga yang lebih indah lagi.
Masyaallah!, Sya’ban bukan menyesali perbuatannya, tapi menyesali mengapa tidak berbuat yang optimal.
*
Sesungguhnya, semua dari kita nanti pada saat sakratul maut menjelang, akan menyesal tentu saja dengan kadar yang berbeda-beda, bahkan ada yang meminta untuk ditunda matinya lantaran pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konsekuensi dari semua perbuatannya di dunia.
Mereka meminta untuk ditunda barang sesaat saja, karena ingin bersedekah. Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat di mundurkan.
Sering sekali kita mendengar ungkapan-ungkapan berikut : “Sholat Isya berjamaah pahalanya sama dengan sholat separuh malam,” “Sholat Subuh berjamaah pahalanya sama dengan sholat sepanjang malam,” “Dua rakaat sebelum Shubuh lebih baik dari pada dunia dan isinya”. Namun pada kenyataannya, lihatlah ke masjid-masjid yang besar dan megah, tetap saja lengang jamaahnya dan terasa longgar. Seolah kita tidak percaya dan tidak yakin kepada janji Allah Swt.
Mengapa bisa terjadi demikian? Karena apa yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Taála itu tidak terlihat dan tidak nampak secara dzohir oleh mata kita pada situasi normal. Mata kita tertutupi oleh suatu hijab. Karena tidak terlihat, maka yang berperan disini adalah iman dan keyakinan, bahwa janji Allah Subhanahu wa Taála tidak akan pernah meleset. Allah akan membuka hijab itu pada saatnya nanti.
Saat ketika nafas sudah sampai di tenggorokan…. Sya’ban r.a telah menginspirasi kita, bagaimana seharusnya menyikapi janji Allah Subhanahu wa Taála tersebut. Namun ternyata dia tetap menyesal sebagaimana halnya kita pun juga akan menyesal. Namun penyesalannya bukanlah sia-sia. Penyesalannya tersebut karena tidak melakukan kebaikan secara optimal dan maksimal.
Mudah-mudahan kisah singkat ini bermanfaat bagi kita semua, dalam mengisi dan mengarungi sisa waktu yang diberikan Allah Subhanahu wa Taála kepada kita. Mari kita berdo’a, semoga Allah Subhanahu wa Taála memberikan kepada kita kekuatan untuk melakukan yang terbaik, bahkan lebih baik dari pada apa yang telah dilakukan oleh Sya’ban radiallahu anhu.
Jika dengan baju jelek saja bisa mengantarkannya mendapat pahala yang begitu besar, sudah barang tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi,seandainya ia memakaikan baju yang baru.
".........."
Berikutnya, Sya’ban r.a melihat lagi suatu adegan saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke segelas susu. Mungkin, bagi yang pernah pergi ke tanah suci sudah tentu mengetahui sebesar apa ukuran roti Arab (sekitar 3 kali ukuran rata-rata roti di Indonesia).
Ketika ia baru saja hendak memulai sarapan, tiba-tiba muncullah seorang pengemis di depan pintu agar diberikan sedikit roti karena sudah lebih 3 hari perutnya tidak di isi makanan. Melihat kejadian tersebut, Sya’ban r.a merasa iba dan kasihan. Ia kemudian membagi dua roti itu sama besar, demikian pula segelas susu itu pun ia bagi dua.
Kemudian mereka makan bersama-sama dengan roti itu yang sebelumnya dicelupkan kedalam susu, dengan porsi yang sama pula… Allah Subhanahu wa Taála kemudian memperlihatkan pahala dan ganjaran dari perbuatan Sya’ban r.a dengan surga yang indah.
Demi melihat itu dia pun berteriak lagi: ““Seandainya semua.” !” Sya’ban r.a kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut, tentulah dia akan mendapatkan surga yang lebih indah lagi.
Masyaallah!, Sya’ban bukan menyesali perbuatannya, tapi menyesali mengapa tidak berbuat yang optimal.
*
Sesungguhnya, semua dari kita nanti pada saat sakratul maut menjelang, akan menyesal tentu saja dengan kadar yang berbeda-beda, bahkan ada yang meminta untuk ditunda matinya lantaran pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konsekuensi dari semua perbuatannya di dunia.
Mereka meminta untuk ditunda barang sesaat saja, karena ingin bersedekah. Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat di mundurkan.
Sering sekali kita mendengar ungkapan-ungkapan berikut : “Sholat Isya berjamaah pahalanya sama dengan sholat separuh malam,” “Sholat Subuh berjamaah pahalanya sama dengan sholat sepanjang malam,” “Dua rakaat sebelum Shubuh lebih baik dari pada dunia dan isinya”. Namun pada kenyataannya, lihatlah ke masjid-masjid yang besar dan megah, tetap saja lengang jamaahnya dan terasa longgar. Seolah kita tidak percaya dan tidak yakin kepada janji Allah Swt.
Mengapa bisa terjadi demikian? Karena apa yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Taála itu tidak terlihat dan tidak nampak secara dzohir oleh mata kita pada situasi normal. Mata kita tertutupi oleh suatu hijab. Karena tidak terlihat, maka yang berperan disini adalah iman dan keyakinan, bahwa janji Allah Subhanahu wa Taála tidak akan pernah meleset. Allah akan membuka hijab itu pada saatnya nanti.
Saat ketika nafas sudah sampai di tenggorokan…. Sya’ban r.a telah menginspirasi kita, bagaimana seharusnya menyikapi janji Allah Subhanahu wa Taála tersebut. Namun ternyata dia tetap menyesal sebagaimana halnya kita pun juga akan menyesal. Namun penyesalannya bukanlah sia-sia. Penyesalannya tersebut karena tidak melakukan kebaikan secara optimal dan maksimal.
Mudah-mudahan kisah singkat ini bermanfaat bagi kita semua, dalam mengisi dan mengarungi sisa waktu yang diberikan Allah Subhanahu wa Taála kepada kita. Mari kita berdo’a, semoga Allah Subhanahu wa Taála memberikan kepada kita kekuatan untuk melakukan yang terbaik, bahkan lebih baik dari pada apa yang telah dilakukan oleh Sya’ban radiallahu anhu.
Senin, 13 Juni 2016
BAHAYA ISBAL !!!! Isbal adalah = Celana yang dibawah mata kaki
Isbal adalah = Celana yang dibawah mata kaki).
HADIST 1:
Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Ada tiga orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat nanti, tidak dipandang, dan tidak disucikan serta bagi mereka siksaan yang pedih.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tiga kali perkataan ini. Lalu Abu Dzar berkata,“Mereka sangat celaka dan merugi. Siapa mereka, Ya Rasulullah?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Mereka adalah Orang Yang ISBAL, orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim no. 306).
HADIST 2:
Dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kain yang berada di bawah mata kaki itu berada di neraka.” (HR. Bukhari no. 5787)
HADIST 3:
“Pakaian seorang muslim adalah hingga setengah betis. Tidaklah mengapa jika diturunkan antara setengah betis dan dua mata kaki. Jika pakaian tersebut berada di bawah mata kaki maka tempatnya di neraka. Dan apabila pakaian itu diseret dalam keadaan sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya (pada hari kiamat nanti).” (HR. Abu Daud no. 4095)
HADIST 4:
“Pada hari Kiamat nanti Allah tidak akan memandang orang yang menyeret kainnya karena sombong” (HR. Bukhari 5788)
SEBELUM KITA LANJUT KE HADIST BERIKUTNYA, KITA STOP DULU DISINI, KARENA Hadist Nomor 3 dan 4 diatas ada kata-kata SOMBONG. Sehingga ada yang beralasan “ SAYA KAN TIDAK SOMBONG ?..., jadi ngak apa-apa kalau Isbal, Saya nggak sombong kok”
Baiklah jika anda berdalih anda bukan orang sombong, maka perhatikan Hadist berikut dibawah ini :
HADIST 5:
WASPADALAH KALIAN DARI ISBAL (pakaian dibawah mata kaki). KARENA HAL ITU (ISBAL) TERMASUK KESOMBONGAN, DAN ALLAH TIDAK MENYUKAI KESOMBONGAN (HR.Abu Daud no.4084)
Semoga Bisa DiFahami, bahwasanya ISBAL itu sendiri Termasuk Sebagai KESOMBONGAN, Bagaimana bisa anda Ngaku-ngaku “ Saya kan Tidak Sombong ?...”. Maka Takutlah akan Firman Allah tentang ayat yang menjelaskan JANGAN KALIAN MENSUCIKAN DIRI KALIAN SENDIRI !!. ALLah Azzawajalla berfirman :
“ Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa “ (Alquran. An najm:32).
Masih Berani mengatakan “ Saya gak Sombong” ?..
Lalu ada sebagian orang yang berdalih dengan hadist tentang Abu Bakar Assiddik rhadiallahuanhu, yang pernah melorot kainnya dibawah mata kaki ketika sholat, berikut ini hadist nya
HADIST 6 :
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menjulurkan pakaiannya dengan sombong, Allah tidak akan melihat dirinya pada hari kiamat.” Lantas Abu Bakr berkata, “Sungguh salah satu ujung celanaku biasa melorot akan tetapi aku selalu memperhatikannya.” “Engkau bukan melakukannya karena sombong (HR. Bukhari no. 3655)
Dari hadist diatas tentang Pakaian Abu Bakar Assiddik Rhadiallahu’anhu yang biasanya terkadang melorot pakaiannya hingga melampaui mata kaki. Dalam Kasus ini maka tidaklah Abu Bakar Assiddik Rhadiallahu’anhu melakukannya dengan maksud SENGAJA DILOROTKAN (sengaja dipanjangkan sampai menutup mata kaki), Tapi hal itu terjadi karena Faktor KETIDAK SENGAJAAN, sebagian ulama mengatakan bahwa karena Abu bakar Assiddik Rhadiallahu’anhu bertubuh kurus, jadi terkadang pakaiannya sering melorot. Kemudian begitu pakaiannya melorot, maka dengan segera di tariknya (diperbaiki lagi) agar Tidak menutup mata kakinya, maka Nabi mengatakan : “ Yang Demikian itu Tidak termasuk Sombong “.
Pertanyaan untuk anda yang mencari alasan dengan hadist Abu bakar diatas :
1. Apakah Celana/Sarung anda yang menutup mata kaki melorot karena Tidak Sengaja atau Memang Sengaja anda Lorotkan ?
2. Apakah ketika memang tidak sengaja melorot maka apakah anda segera memperbaikinya dengan menariknya kembali keatas ?..sehingga tidak menutup mata kaki ?
3. Apakah Level keimanan anda sudah setara dengan Abu Bakar Assiddik Rhadiallahu’anhu ?
Silakan di introspeksi sendiri dan dijawab sendiri dengan jujur.
HADIST 7 :
Rasulullah Shallallahu’alaihiwassallam pernah memegang tumitnya Hudzaifah, dan bersabda :
.........tidak ada hak bagi sarung (pakaian) dikedua mata kaki (HR At-Thirmidzi III/247 n0.1783, Ibnu Majah. No.3572).
Pada peristiwa ini, Rasulullah Shallallahu’alaihiwassallam, tidak berkata : “ Kamu sombong atau tidak ?..., kalau gak sombong gak apa-apa deh..”
Sebenarnya masih sangat banyak sekali Hadist tentang Larangan ISBAL, berpuluh-puluh Hadist. Tidak mungkin semuanya dimuat disini. Herannya, masih banyak orang yang meremehkan ISBAL.
Sebagai penutup, sering2lah mengingat hadis berikut ini :
Dari ibnu umar, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihiwassallam bersabda: “ takkala seorang laki-laki sedang meng-isbalkan pakaiannya, tiba-tiba bumi terbelah bersamanya, Maka dia pun berguncang-guncang (meronta-ronta) tenggelam didalam bumi hingga hari kiamat “ (HR.Bukhari no.5790)
Ya akhi..ISBAL MENGERIKAN, didalam Hadist dikatakan “ termasuk Kesombongan”..bukankah Allah Azzawajalla mengatakan Tidak akan Mencium bau Surga bagi yang ada Sombong didalam Hatinya ?
Ya Akhi...ISBAL MENGERIKAN.., dihari Kiamat Tidak diajak Bicara oleh Allah, Tidak Dilihat dan tIDAK Dipandang, alias di Cuekin dan diacuhkan. Lalu Dia Tidak Disucikan, lalu diberi siksaan yang sangat pedih, lalu dilemparkan kedalam neraka Jahannam
ITTAQULLAH (Takut Lah kepada ALLAH..), Iman kita tidak senilai mata kaki.., Potong Celana Yuk.., tetap keren kok...
Wallahu’alam
Jumat, 10 Juni 2016
Siapakah Umat Islam Yang Diusir Oleh Malaikat Kelak Di Hari Kiamat ????
Umat Islam Yang Diusir Oleh Malaikat Kelak Di Hari Kiamat
Sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mengisahkan: pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kuburan, lalu beliau mengucapkan salam:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ
“Semoga keselamatan senantiasa menyertai kalian wahai penghuni kuburan dari kaum mukminin, dan kami insya Allah pasti akan menyusul kalian“.
Selanjutnya beliau bersabda: “aku sangat berharap untuk dapat melihat saudara-saudaraku“.
Mendengar ucapan ini, para sahabat keheranan, sehingga mereka bertanya: “bukankah kami adalah saudara-saudaramu wahai Rasulullah?”. Rasulullah menjawab :
أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ
“Kalian adalah sahabat-sahabatku, sedangkan saudara-saudaraku adalah ummatku yang akan datang kelak“.
Kembali para sahabat bertanya: “wahai rasulullah, bagaimana engkau dapat mengenali ummatmu yang sampai saat ini belum terlahir?“. Beliau menjawab:
أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ بَيْنَ ظَهْرَيْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ أَلَا يَعْرِفُ خَيْلَهُ
“Menurut pendapat kalian, andai ada orang yang memiliki kuda yang di dahi dan ujung-ujung kakinya berwarna putih dan kuda itu berada di tengah-tengah kuda-kuda lainnya yang berwarna hitam legam, tidakkah orang itu dapat mengenali kudanya?”
Para sahabat menjawab : “tentu saja orang itu dengan mudah mengenali kudanya“. Maka Rasulullah menimpali jawaban mereka dengan bersabda:
فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنَ الْوُضُوءِ، وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ
“Sejatinya ummatku pada hari qiyamat akan datang dalam kondisi wajah dan ujung-ujung tangan dan kakinya bersinar pertanda mereka berwudlu semasa hidupnya di dunia“.
Aku akan menanti ummatku di pinggir telagaku di alam mahsyar. Dan ketahuilah bahwa akan ada dari ummatku yang diusir oleh Malaikat, sebagaimana seekor onta yang tersesat dari pemiliknya dan mendatangi tempat minum milik orang lain, sehingga iapun diusir. Melihat sebagian orang yang memiliki tanda-tanda pernah berwudlu, maka aku memanggil mereka: “kemarilah“. Namun para Malaikat yang mengusir mereka berkata:
فَيُقَالُ: إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ
“sejatinya mereka sepeninggalmu telah merubah-rubah ajaranmu“.
Mendapat penjelasan semacam ini, maka aku (Rasulullah) berkata :
سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِي
“menjauhlah, menjauhlah wahai orang-orang yang sepeninggalku merubah-rubah ajaranku” (diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim).
Anda tidak ingin bernasib seperti mereka? Tentu jawabannya: tidak.
Karena itu, mari kita menjaga kemurnian ajaran beliau dan mengamalkannya dengan seutuhnya tanpa ditambah atau dikurangi. Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang mendapat syafaat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam pada hari kiyamat kelak. Amiin
Kamis, 09 Juni 2016
ADAB dan CARA MENGANGKAT TANGAN KETIKA BERDO'A
Mengangkat tangan ketika berdo'a adalah salah satu adab dalam berdo'a kepada Allah.
Dalilnya, hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
"Sesunguhnya Rabb kalian tabaroka wa ta’ala Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya, jika hamba tersebut MENENGADAHKAN TANGAN kepada-Nya, lalu KEDUA TANGAN TERSEBUT kembali dalam keadaan hampa." (HR. Abu Daud no. 1488 dan At Tirmidzi no. 3556)
SEKARANG, BAGAIMANA CARA MENGANGKAT TANGAN KETIKA BERDO'A?
Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu mengatakan, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika berdoa, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya setinggi wajahnya (wajah menghadap telapak tangan). (HR. Thabrani)
Catatan: Salah satu faidah hadis ini adalah kita tidak boleh melihat ke atas ketika berdoa. Tundukkan wajah kita di hadapan Allah.
TAMBAHAN CATATAN (tulisan ustadz Muhammad Abduh)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin –rahimahullah- pernah ditanyakan,
“Bagaimanakah kaedah (dhobith) mengangkat tangan ketika berdo’a?”
Beliau –rahimahullah- menjawab dengan rincian yang amat bagus:
Mengangkat tangan ketika berdo’a ada tiga keadaan:
Pertama, ada dalil yang menunjukkan untuk mengangkat tangan. Kondisi ini menunjukkan dianjurkannya mengangkat tangan ketika berdo’a. Contohnya adalah ketika berdo’a setelah shalat istisqo’ (shalat minta diturunkannya hujan). Jika seseorang meminta hujan pada khutbah jum’at atau khutbah shalat istisqo’, maka dia hendaknya mengangkat tangan. Juga contoh hal ini adalah mengangkat tangan ketika berdo’a di Bukit Shofa dan Marwah, berdo’a di Arofah, berdo’a ketika melempar Jumroh Al Ula pada hari-hari tasyriq dan juga Jumroh Al Wustho.
Oleh karena itu, ketika menunaikan haji ada enam tempat untuk mengangkat tangan: [1] ketika berada di Shofa, [2] ketika berada di Marwah, [3] ketika berada di Arofah, [4] ketika berada di Muzdalifah setelah shalat shubuh, [5] Di Jumroh Al Ula di hari-hari tasyriq, [6] Di Jumroh Al Wustho di hari-hari tasyriq.
Kondisi semacam ini tidak diragukan lagi bagi seseorang untuk mengangkat tangan ketika itu karena adanya petunjuk dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal ini.
Kedua, tidak ada dalil yang menunjukkan untuk mengangkat tangan. Contohnya adalah do’a di dalam shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a istiftah: Allahumma ba’id baini wa baina khothoyaya kama ba’adta bainal masyriqi wal maghribi …; juga membaca do’a di antara dua sujud : Robbighfirli; juga berdo’a ketika tasyahud akhir; namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengangkat tangan pada semua kondisi ini. Begitu juga dalam khutbah Jum’at. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a namun beliau tidak mengangkat kedua tangannya kecuali jika meminta hujan (ketika khutbah tersebut).
Barangsiapa mengangkat tangan dalam kondisi-kondisi ini dan semacamnya, maka dia telah terjatuh dalam perkara yang diada-adakan dalam agama (alias bid’ah) dan melakukan semacam ini terlarang.
Ketiga, tidak ada dalil yang menunjukkan mengangkat tangan ataupun tidak. Maka hukum asalnya adalah mengangkat tangan karena ini termasuk adab dalam berdo’a.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesunguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya, jika hamba tersebut menengadahkan tangan kepada-Nya , lalu kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa..”[1]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menceritakan seseorang yang menempuh perjalanan jauh dalam keadaan kusut dan penuh debu, lalu dia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya mengatakan: “Wahai Rabbku! Wahai Rabbku!” Padahal makanannya itu haram, pakaiannya haram, dan dia dikenyangkan dari yang haram. Bagaimana mungkin do’anya bisa dikabulkan?[2]
Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan mengangkat kedua tangan sebagai sebab terkabulnya do’a.
Inilah pembagian keadaan dalam mengangkat tangan ketika berdo’a. Namun, ketika keadaan kita mengangkat tangan, apakah setelah memanjatkan do’a diperbolehkan mengusap wajah dengan kedua tangan?
Yang lebih tepat adalah tidak mengusap wajah dengan kedua telapak tangan sehabis berdo’a karena hadits yang menjelaskan hal ini adalah hadits yang lemah (dho’if)[3] yang tidak dapat dijadikan hujjah (dalil). Apabila kita melihat seseorang membasuh wajahnya dengan kedua tangannya setelah selesai berdo’a, maka hendaknya kita jelaskan padanya bahwa yang termasuk petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tidak mengusap wajah setelah selesai berdo’a karena hadits yang menjelaskan hal ini adalah hadits yang lemah (dho’if).
[Liqo’at Al Bab Al Maftuh, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, kaset no. 51]
Catatan Kaki:
[1] Lafazh hadits yang dimaksudkan adalah:
إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا
“Sesunguhnya Rabb kalian tabaroka wa ta’ala Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya, jika hamba tersebut menengadahkan tangan kepada-Nya , lalu kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa.” (HR. Abu Daud no. 1488 dan At Tirmidzi no. 3556. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud mengatakan bahwa hadits ini shohih)
[2] HR. Muslim no. 1015
[3] Hadits yang dimaksudkan adalah dari Umar bin Khothob radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ فِى الدُّعَاءِ لَمْ يَحُطَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengangkat tangan ketika berdo’a, beliau tidak menurunkannya hingga beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.”
Mengenai hadits ini, seorang pakar hadits terkemuka yaitu Abu Zur’ah mengatakan, “Hadits ini adalah hadits mungkar. Saya takut hadits ini tidak ada asalnya.” (Lihat ‘Ilalul Hadits, hal. 156, Asy Syamilah). Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 433 mengatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah).
Rabu, 08 Juni 2016
UKHUWAH ISLAMIYAH ADALAH ...
Mempererat Ukhuwah dengan Saling Menasehati dan Saling Mengajak pada Kebaikan
Sebagian kaum muslimin bertanya :
Mengapa kita harus saling menyalahkan satu sama yang lainnya, bukankah kita masih sama-sama kaum muslimin yang bersaudara dan kita berkewajiban mempererat ukhuwah Islamiyah ??
Benar, kita adalah kaum muslimin yang memiliki ikatan ukhuwah. Untuk itu, maka kita tidak boleh saling mendhalimi antara satu dengan yang lainnya..
✳Namun.. Menjaga ukhuwah islamiyah bukanlah dengan membuang perintah Allah untuk saling nasehat-nasehati. Tidak seperti yang mereka katakan tadi :
“Jangan saling salah-menyalahkan, bukankah kita bersaudara“.
👉Maka kita katakan :
Justru karena kita bersaudara, kita harus saling mengingatkan mana yang benar dan mana yang salah. Karena seluruh kaum muslimin berharap jelasnya kebenaran dan kebatilan, sebagaimana dalam doa mereka di masjid-masjid :
.
ﺃَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃَﺭِﻧَﺎ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﺣَﻘًّﺎ ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻨَﺎ ﺍﺗِّﺒَﺎﻋَﻪُ ﻭَﺃَﺭِﻧَﺎ ﺍﻟْﺒَﺎﻃِﻞَ ﺑَﺎﻃِﻼً ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻨَﺎ ﺍﺟْﺘِﻨَﺎﺑَﻪُ
" Ya Allah perlihatkanlah kepada kami yang benar itu benar dan bantulah kami untuk mengikutinya, dan perlihatkanlah kepada kami yang batil adalah batil dan bantulah kami untuk menjauhinya "
👉Maka tujuan saling mansehati dan mengajak pada kebaikan adalah menjelaskan yang haq adalah hak dan yang batil adalah batil..
Sebagaimana Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ berfirman :
ﻟِﻴُﺤِﻖَّ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﻭَﻳُﺒْﻄِﻞَ ﺍﻟْﺒَﺎﻃِﻞَ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺮِﻩَ ﺍﻟْﻤُﺠْﺮِﻣُﻮﻥَ . ( ﺍﻷﻧﻔﺎﻝ : 8 )
" Agar Allah menetapkan yang hak adalah haq dan membatalkan yang batil walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya. " (al-Anfaal: 8).
🎾 Oleh karena itu, mengingatkan yang lupa dan memperbaiki yang salah jika diiringi dengan bukti-bukti dan dalil-dalil secara ilmiyah, justru akan mempererat ukhuwah islamiyah. Karena sudah merupakan kodrat manusia untuk berbuat salah dan lupa. Untuk itu harus ada di tengah mereka saling nasehat-menasehati dengan kebenaran dan kesabaran..
☝Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ berfirman :
ﻭَﺍﻟْﻌَﺼْﺮِ ( 1 ) ﺇِﻥَّ ﺍْﻹِﻧْﺴَﺎﻥَ ﻟَﻔِﻲ ﺧُﺴْﺮٍ ( 2 ) ﺇِﻻَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﻭَﺗَﻮَﺍﺻَﻮْﺍ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﺗَﻮَﺍﺻَﻮْﺍ ﺑِﺎﻟﺼَّﺒْﺮِ . ( ﺍﻟﻌﺼﺮ : 3-1 )
" Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat- menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran. " (al-’Ashr: 1-3).
✅ Dan.. Nasehat - menasehati tersebut harus dilatarbelakangi oleh rasa kasih sayang dan ukhuwah islamiyah ==> Kita tidak ingin melihat saudara kita terjatuh ke dalam kesalahan dan penyimpangan (kebid’ahan) yang pelakunya terancam dengan neraka. Maka -dalam rangka ukhuwah islamiyah- kita wajib mengingatkan kesalahan mereka dan menjelaskan penyimpangan dan kebid’ahan-kebid’ahan mereka dengan berharap semoga Allah menyelamatkan seluruh kaum muslimin dari kesesatan dan penyimpangan..
☝Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ berfirman :
ﺛُﻢَّ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻦَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﺗَﻮَﺍﺻَﻮْﺍ ﺑِﺎﻟﺼَّﺒْﺮِ ﻭَﺗَﻮَﺍﺻَﻮْﺍ ﺑِﺎﻟْﻤَﺮْﺣَﻤَﺔِ . ( ﺍﻟﺒﻠﺪ : 17 )
" Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. " (al-Balad: 17).
Dalam rangka kasih sayang itulah, diperintahkannya amar ma’ruf nahi mungkar dalam banyak ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ .
☝ Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ berfirman :
ﻭَﻟْﺘَﻜُﻦْ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺃُﻣَّﺔٌ ﻳَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﻳَﺄْﻣُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﻳَﻨْﻬَﻮْﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻭَﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ . ( ﺍﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ : 104)
" Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf danmencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung. " (Ali Imran: 104).
Betapa banyaknya ayat Allah dalam al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih memerintahkan kita untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, karena tidak ada seorang manusiapun yang selamat dari kesalahan (ma’shum) kecuali Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ . Dan tidak ada satu kelompok pun yang selamat dari ancaman api neraka, kecuali “al-jama’ah” yakni Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ dan para shahabatnya ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ (salafus shalih).
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Amr ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ , Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ bersabda :
ﻟَﻴَﺄْﺗِﻴَﻦَّ ﻋَﻠَﻰ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻣَﺎ ﺃَﺗَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻨِﻲ ﺇِﺳْﺮَﺍﺋِﻴﻞَ ﺣَﺬْﻭَ ﺍﻟﻨَّﻌْﻞِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻌْﻞِ ﺣَﺘَّﻰ ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﺃُﻣَّﻪُ ﻋَﻼَﻧِﻴَﺔً ﻟَﻜَﺎﻥَ ﻓِﻲ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻣَﻦْ ﻳَﺼْﻨَﻊُ ﺫَﻟِﻚَ ﻭَﺇِﻥَّ ﺑَﻨِﻲ ﺇِﺳْﺮَﺍﺋِﻴﻞَ ﺗَﻔَﺮَّﻗَﺖْ ﻋَﻠَﻰ ﺛِﻨْﺘَﻴْﻦِ ﻭَﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﻣِﻠَّﺔً ﻭَﺗَﻔْﺘَﺮِﻕُ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﺛَﻼَﺙٍ ﻭَﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﻣِﻠَّﺔً ﻛُﻠُّﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﺇِﻻَّ ﻣِﻠَّﺔً ﻭَﺍﺣِﺪَﺓً ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻭَﻣَﻦْ ﻫِﻲَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻲ . ( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ )
" Sungguh akan datang pada umatku apa yang pernah terjadi pada Bani Israil seperti sandal dengan sandal, hingga kalau pundi kalangan mereka terjadi orang yang menzinai ibunya sendiri, maka di kalangan umat ini pun akan terjadi. Dan sesungguhnya bani Israil telah terpecah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya dalam neraka kecuai satu golongan. Para shahabat bertanya: “Siapakah golongan tersebut ya Rasulullah?” beliau menjawab: “Apa yang aku dan para shahabatku telah jalani“ " (HR. Tirmidzi; Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Jami’ Tirmidzi, hadits no. 2641).
👉 Dengan demikian, maka tegur-menegur, nasehat-menasehati atau bahkan bantah-membantah (baca : diskusi) antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, atau satu muslim dengan saudara muslim lainnya, adalah wajar sebagai upaya menelusuri jalan kelompok yang selamat tersebut..
Kalau merasa apa yang dilakukannya adalah benar, sedangkan yang membantah itulah yang salah, maka bantahlah dengan lemah lembut dan secara ilmiah pula dengan dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah dengan contoh-contoh dari salafus-shalih, para ulama, dan lain-lain.
.
ﺍﺩْﻉُ ﺇِﻟَﻰ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺭَﺑِّﻚَ ﺑِﺎﻟْﺤِﻜْﻤَﺔِ ﻭَﺍﻟْﻤَﻮْﻋِﻈَﺔِ ﺍﻟْﺤَﺴَﻨَﺔِ ﻭَﺟَﺎﺩِﻟْﻬُﻢْ ﺑِﺎﻟَّﺘِﻲ ﻫِﻲَ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﺇِﻥَّ ﺭَﺑَّﻚَ ﻫُﻮَ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﻤَﻦْ ﺿَﻞَّ ﻋَﻦْ ﺳَﺒِﻴﻠِﻪِ ﻭَﻫُﻮَ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﺎﻟْﻤُﻬْﺘَﺪِﻳﻦَ . ( ﺍﻟﻨﺤﻞ : 125 )
.
" Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. " (an-Nahl: 125).
☝
Semoga Allah Ta'ala mempersatukan kita semua diatas al haq, yakni diatas Al Qur'an dan Sunnah menurut pemahaman Salaful Ummah..
Selasa, 07 Juni 2016
SAAT BERHADAPAN DENGAN HUKUM ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA
SAAT BERHADAPAN DENGAN HUKUM ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA
Bismillaah....
Bismillaah....
Tempatkan akal kecerdasan kita dibelakang Al-Qur'an, TAK MUNGKIN kita lebih pintar dari Allah Subhanahu wa ta'ala.
Allah Maha Mengetahui, semua yang telah, sedang dan yang akan terjadi. Sedangkan akal manusia, mudah dipengarui apa-apa yang kelihatan saja, sedangkan apa yang sebenarnya terjadi, yang akan terjadi nanti tak akan mampu menganalisa dengan benar.
JANGAN memposisikan AKAL PIKIRAN KITA didepan Al-Qur'an dan as Sunnah.
Amal ibadah sudah ditentukan syariatnya dan itu hak Allah, manusia dilarang (haram) menambahi, mengurangi atau berkreasi sendiri, meski itu baik menurut manusia TAPI tidak ada artinya kalau ALLAH Subhanahu wa ta'ala tidak menyukainya (melarang). BAIK itu belum tentu benar tapi BENAR pasti baik.
"Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur'an) dan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam." (HR. Muslim)
JANGAN TAKLID BUTA
Firman Allah ‘azza wa jalla,
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya (taklid buta). Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (QS. 17:36)
Salah satu sikap mental yang juga harus kita buang jauh jauh dalam mencari kebenaran adalah sikap mental taklid buta. Mengikuti suatu fatwa ulama tanpa dikaji secara mendalam kebenarannya.
Main makan saja itu fatwa, main telan saja tanpa mau mereka selidiki. Kalau benar fatwa tersebut. sesuai maunya Allah, maka beruntunglah si taqlid buta ini. Tapi kalau fatwa tersebut menyimpang dari yang dikehendaki Allah, maka binasalah si taqlid buta ini bersama ulama ulamanya.
Mohon ma'af, memang fakta secara umum mentalitas manusia gampang percaya terhadap apa yang di fatwakan ustadznya (ulama). Tanpa mengurangi rasa hormat ada ulama, ustadz selalu dianggap sebagai symbol kebaikan. Dan ini sudah membudaya, mendarah daging.
Mereka lupa bahwa ulama itu ada dua jenis. Ulama su'u dan ulama pewaris nabi. Masyarakat hampir tak sadar, tidak percaya, bahwa ulama su'u itu ada. Dan bahkan lebih tidak sadar lagi bahwa para perusak agama adalah para ulama su'u dan penguasa thaghut yang jumlahnya mayoritas.
SYARAT dlm IBADAH adalah:
√ [1] Berniat IKHLAS kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan
√ [2] ITTIBA’ (mencontoh) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dua syarat ini telah Allah Subhanahu wa Ta’ala abadikan dalam firmanNya di ayat terakhir surat Al Kahfi dalam satu kesempatan sekaligus, “Sesunggunya Sesembahan kalian adalah sesembahan yang esa, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia beramal ibadah dengan amalan yang sholeh dan tidak menyekutukan Rabbnya dalam amal ibadahnya dengan suatu apapun“. (QS : Al Kahfi: 110).
Ibnu Katsir Asy Syafi’i rahimahullah seorang pakar tafsir yang tidak diragukan lagi keilmuannya mengatakan, “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen). Dan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik padaNya.” Kemudian beliau mengatakan, “Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Dalil lainnya adalah firman Allah ‘azza wa jalla, “Dzat Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amal ibadahnya”. (QS : Al Mulk: 2).
Fudhail bin ‘Iyaad rahimahullah seorang Tabi’in yang agung mengatakan ketika menafsirkan firman Allah, (yang artinya) “yang lebih baik amal ibadahnya” maksudnya adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar (paling mencocoki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).
Kemudian beliau rahimahullah mengatakan, “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima".
"Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima".
"Amalan barulah diterima jika terdapat syarat ikhlas dan showab. Amalan dikatakan ikhlas apabila dikerjakan semata-mata karena Allah".
"Amalan dikatakan showab apabila mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”.
IBADAH, merupakan tujuan diciptakannya seluruh jin dan seluruh manusia, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla, “Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu“. (QS : Adz Dzariyat [51] :56).
Namun telah tahukah kita bahwa ibadah MEMILIKI SYARAT agar ibadah tersebut diterima di sisi ALLAH sebagai AMAL SHOLEH dan bukan amal yang SALAH?
Hukum asal suatu amalan ibadah adalah haram sampai adanya dalil.
Perkara duniawi, hukum asalnya itu boleh sampai ada (atau sudah ada) dalil yang mengharamkannya.
Silahkan sampaikan pesan ini ke sesama Muslim. Semoga Allah Menyelamatkan kita dari segala macam rasa sakit dan mengizinkan kita Meninggal di atas Iman Islam di hati Kita dan menyelamatkan kita dari ‘Azab Nya. Aamiin
'Wabillahi taufiq walhidayah', Semoga diberi petunjuk dan hidayah oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
Wallahu A'lam Bishawab.
Senin, 06 Juni 2016
Pengertian Tawadhu, Rendah Hati
T A W A D H U'
Salah satu sifat mukmin atau muslim sejati adalah tawadhu’, yakni rendah hati, tidak merasa lebih dari yang lain. Lawannya adalah sifat sombong (takabur). Rasulullah Saw menegaskan:
“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian tawadhu’ sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berbuat zhalim atas yang lain.” (HR. Muslim).
Tawadhu‘ adalah rendah hati, tidak sombong, tidak arogan, tidak ingin menonjolkan diri, tidak ingin pujian, tidak pula gila hormat, dan tidak melihat diri kita memiliki nilai lebih.
Menurut Imam Al-Hasan Al-Bashri, tawadhu’ itu setiap kali seseorang keluar rumah dan bertemu seorang muslim, ia “selalu menyangka bahwa orang itu lebih baik daripada dirinya”.
Tawadhu‘ juga bermakna ketundukan kepada kebenaran, menerima nasihat dan koreksi dari siapa pun datangnya, baik dalam keadaan suka maupun murka dan duka.
Ulama generasi tabi’in, Fudhail bin Iyadh, ketika ditanya tentang tawadhu’ ia menjawab: “(Tawadhu’ adalah) ketundukan kepada kebenaran dan memasrahkan diri kepadanya serta menerima dari siapa pun yang mengucapkannya” (Madarijus Salikin).
Menurut Ibnul Qayyim: “Barangsiapa yang angkuh untuk tunduk kepada kebenaran, walaupun datang dari anak kecil atau orang yang dimarahinya atau yang dimusuhinya, maka kesombongan orang tersebut hanyalah kesombongan kepada Allah karena Allah adalah Al-Haq, ucapannya haq, agamanya haq. Al-Haq datangnya dari Allah dan kepada-Nya akan kembali. Barangsiapa menyombongkan diri untuk menerima kebenaran, berarti dia menolak segala yang datang dari Allah dan menyombongkan diri di hadapan-Nya.”
Di hadapan Allah SWT, tawadhu‘ adalah sikap merendahkan dan menghinakan diri. “Tidak akan berkurang harta yang disedekahkan, dan Allah tidak akan menambah bagi seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan akan Allah angkat derajatnya,” (HR. Muslim).
Allah SWT dan Rasul-Nya menyukai sifat tawadhu’ dan sebaliknya, membenci takabur.
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain” (HR. Muslim).
Allah SWT menjanjian kebahagiaan bagi orang-orang tawadhu’. “Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi dan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83). Wallahu a’lam.*
Salah satu sifat mukmin atau muslim sejati adalah tawadhu’, yakni rendah hati, tidak merasa lebih dari yang lain. Lawannya adalah sifat sombong (takabur). Rasulullah Saw menegaskan:
“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian tawadhu’ sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berbuat zhalim atas yang lain.” (HR. Muslim).
Tawadhu‘ adalah rendah hati, tidak sombong, tidak arogan, tidak ingin menonjolkan diri, tidak ingin pujian, tidak pula gila hormat, dan tidak melihat diri kita memiliki nilai lebih.
Menurut Imam Al-Hasan Al-Bashri, tawadhu’ itu setiap kali seseorang keluar rumah dan bertemu seorang muslim, ia “selalu menyangka bahwa orang itu lebih baik daripada dirinya”.
Tawadhu‘ juga bermakna ketundukan kepada kebenaran, menerima nasihat dan koreksi dari siapa pun datangnya, baik dalam keadaan suka maupun murka dan duka.
Ulama generasi tabi’in, Fudhail bin Iyadh, ketika ditanya tentang tawadhu’ ia menjawab: “(Tawadhu’ adalah) ketundukan kepada kebenaran dan memasrahkan diri kepadanya serta menerima dari siapa pun yang mengucapkannya” (Madarijus Salikin).
Menurut Ibnul Qayyim: “Barangsiapa yang angkuh untuk tunduk kepada kebenaran, walaupun datang dari anak kecil atau orang yang dimarahinya atau yang dimusuhinya, maka kesombongan orang tersebut hanyalah kesombongan kepada Allah karena Allah adalah Al-Haq, ucapannya haq, agamanya haq. Al-Haq datangnya dari Allah dan kepada-Nya akan kembali. Barangsiapa menyombongkan diri untuk menerima kebenaran, berarti dia menolak segala yang datang dari Allah dan menyombongkan diri di hadapan-Nya.”
Di hadapan Allah SWT, tawadhu‘ adalah sikap merendahkan dan menghinakan diri. “Tidak akan berkurang harta yang disedekahkan, dan Allah tidak akan menambah bagi seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan akan Allah angkat derajatnya,” (HR. Muslim).
Allah SWT dan Rasul-Nya menyukai sifat tawadhu’ dan sebaliknya, membenci takabur.
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain” (HR. Muslim).
Allah SWT menjanjian kebahagiaan bagi orang-orang tawadhu’. “Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi dan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83). Wallahu a’lam.*
File di Flasdisk tiba-tiba HILANG, !!! jangan panik, ini cara menampilkan kembali file-file yang Hilang di Flasdisk TERHIDDEN
disaat pekerjaan menuntut untuk cepat kadang kita keasyikan menggunakan media removabledisk (flasdisk) karena dapat kita gunakan setiap saat, dan dimana saja kita bisa gunakan. karena kepraktisan inilah banyak diantara pekerja administrasi memilih untuk menggunakan flashdisk untuk menyimpan dan sekaligus untuk mengolah data, karena kita bisa berpindah-pindah PC/ Laptop. dan kebutuhan kita untuk menyimpan sementara menjadikannya primadona dalam hal simpan menyimpan. dalam penggunaan ini banyak pula di jumpai beberapa kasus eror atau rusaknya file dalam flashdisk. dan yang membuat kita marah adalah ketika kita membuka flashdisk ternyata filenya HILANG atau TerHIDDEN. kita pun panik, dan dalam hal ini jangan Khawatir karena dalam hilangnya file di flashdisk bisa disebabkan beberapa macam seperti, flashdisk eror, virus, dan malware.
dalam kesempatan ini saya mau berbagi Tips dan Cara mengembalikan isi file dalam Flashdisk yang HILANG terHIDDen secara tiba-tiba dan diketahui Storage atau isi Flashdisk masih ada.
pertama adalah kita gunakan anti virus lokal seperti SMADAV.
- kita scan secara komplit, maka akan muncul file yang terhidden
- kita ceklist file yang terhidden tsb, kemudian kita klik UNHIDDEN / BUKA
- buka Explore
- pilih menu view di menu bar
- klik di option pilih change folder dan search option
- muncul jendela Folder Option,
- pilih View, kemudian ceklist semua tanda
- pilih apply dan OK.
Langganan:
Postingan (Atom)








