SAAT BERHADAPAN DENGAN HUKUM ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA
Bismillaah....
Bismillaah....
Tempatkan akal kecerdasan kita dibelakang Al-Qur'an, TAK MUNGKIN kita lebih pintar dari Allah Subhanahu wa ta'ala.
Allah Maha Mengetahui, semua yang telah, sedang dan yang akan terjadi. Sedangkan akal manusia, mudah dipengarui apa-apa yang kelihatan saja, sedangkan apa yang sebenarnya terjadi, yang akan terjadi nanti tak akan mampu menganalisa dengan benar.
JANGAN memposisikan AKAL PIKIRAN KITA didepan Al-Qur'an dan as Sunnah.
Amal ibadah sudah ditentukan syariatnya dan itu hak Allah, manusia dilarang (haram) menambahi, mengurangi atau berkreasi sendiri, meski itu baik menurut manusia TAPI tidak ada artinya kalau ALLAH Subhanahu wa ta'ala tidak menyukainya (melarang). BAIK itu belum tentu benar tapi BENAR pasti baik.
"Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur'an) dan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam." (HR. Muslim)
JANGAN TAKLID BUTA
Firman Allah ‘azza wa jalla,
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya (taklid buta). Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (QS. 17:36)
Salah satu sikap mental yang juga harus kita buang jauh jauh dalam mencari kebenaran adalah sikap mental taklid buta. Mengikuti suatu fatwa ulama tanpa dikaji secara mendalam kebenarannya.
Main makan saja itu fatwa, main telan saja tanpa mau mereka selidiki. Kalau benar fatwa tersebut. sesuai maunya Allah, maka beruntunglah si taqlid buta ini. Tapi kalau fatwa tersebut menyimpang dari yang dikehendaki Allah, maka binasalah si taqlid buta ini bersama ulama ulamanya.
Mohon ma'af, memang fakta secara umum mentalitas manusia gampang percaya terhadap apa yang di fatwakan ustadznya (ulama). Tanpa mengurangi rasa hormat ada ulama, ustadz selalu dianggap sebagai symbol kebaikan. Dan ini sudah membudaya, mendarah daging.
Mereka lupa bahwa ulama itu ada dua jenis. Ulama su'u dan ulama pewaris nabi. Masyarakat hampir tak sadar, tidak percaya, bahwa ulama su'u itu ada. Dan bahkan lebih tidak sadar lagi bahwa para perusak agama adalah para ulama su'u dan penguasa thaghut yang jumlahnya mayoritas.
SYARAT dlm IBADAH adalah:
√ [1] Berniat IKHLAS kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan
√ [2] ITTIBA’ (mencontoh) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dua syarat ini telah Allah Subhanahu wa Ta’ala abadikan dalam firmanNya di ayat terakhir surat Al Kahfi dalam satu kesempatan sekaligus, “Sesunggunya Sesembahan kalian adalah sesembahan yang esa, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia beramal ibadah dengan amalan yang sholeh dan tidak menyekutukan Rabbnya dalam amal ibadahnya dengan suatu apapun“. (QS : Al Kahfi: 110).
Ibnu Katsir Asy Syafi’i rahimahullah seorang pakar tafsir yang tidak diragukan lagi keilmuannya mengatakan, “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen). Dan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik padaNya.” Kemudian beliau mengatakan, “Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Dalil lainnya adalah firman Allah ‘azza wa jalla, “Dzat Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amal ibadahnya”. (QS : Al Mulk: 2).
Fudhail bin ‘Iyaad rahimahullah seorang Tabi’in yang agung mengatakan ketika menafsirkan firman Allah, (yang artinya) “yang lebih baik amal ibadahnya” maksudnya adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar (paling mencocoki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).
Kemudian beliau rahimahullah mengatakan, “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima".
"Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima".
"Amalan barulah diterima jika terdapat syarat ikhlas dan showab. Amalan dikatakan ikhlas apabila dikerjakan semata-mata karena Allah".
"Amalan dikatakan showab apabila mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”.
IBADAH, merupakan tujuan diciptakannya seluruh jin dan seluruh manusia, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla, “Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu“. (QS : Adz Dzariyat [51] :56).
Namun telah tahukah kita bahwa ibadah MEMILIKI SYARAT agar ibadah tersebut diterima di sisi ALLAH sebagai AMAL SHOLEH dan bukan amal yang SALAH?
Hukum asal suatu amalan ibadah adalah haram sampai adanya dalil.
Perkara duniawi, hukum asalnya itu boleh sampai ada (atau sudah ada) dalil yang mengharamkannya.
Silahkan sampaikan pesan ini ke sesama Muslim. Semoga Allah Menyelamatkan kita dari segala macam rasa sakit dan mengizinkan kita Meninggal di atas Iman Islam di hati Kita dan menyelamatkan kita dari ‘Azab Nya. Aamiin
'Wabillahi taufiq walhidayah', Semoga diberi petunjuk dan hidayah oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
Wallahu A'lam Bishawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar