BEBERAPA KISAH BALASAN SESUAI PERBUATANNYA.
"Dalam suatu kisah, bahwa ada seorang laki-laki yang buntung tangannya hingga pangkal lengannya berkata, “Barangsiapa yang melihat keadaanku, maka jangan sekali-kali berlaku zhalim kepada seorang pun.” Lalu orang itu ditanya, “Apa yang terjadi atas dirimu?” Lalu dia bercerita, “Kisahku sangat menyedihkan. Dahulunya aku seorang yang mudah sekali mendzalimi orang. Suatu hari aku melihat seorang nelayan mendapatkan ikan besar yang menakjubkanku. Akupun mendekatinya dan berkata, “Berikanlah ikan itu kepadaku.” Dia menjawab, “Tidak, karena ikan ini akan saya jual dan hasilnya untuk membeli makan bagi keluargaku.” Lalu aku memukulnya dan merebutnya dengan paksa dan langsung pergi.
Ketika aku pulang membawa ikan tersebut, tiba-tiba ikan itu menggigit jempol tanganku dengan gigitan yang kuat. Sesampainya di rumah aku letakkan ikan itu, sementara jempol tanganku semakin terasa sakitnya hingga aku tidak bisa tidur karena nyeri. Pagi harinya aku mendatangi tabib dan mengeluhkan rasa sakitku, lalu sang tabib berkata, “Anda terkena infeksi, seharusnya jempol ini dipotong, kalau tidak niscaya akan menjalar ke tanganmu.” Maka saya harus merelakan jempolku diamputasi. Namun rasa sakit telah menjalar ke telapak tangan hingga aku tetap belum bisa tidur karena sakitnya. Akupun kembali mendatangi tabib dan tabib berkata, “potonglah telapak tanganmu, agar penyakit tidak menjalar ke hasta.” Akhirnya telapak tanganku diamputasi juga.”
Penyakit terus menjalar, hingga orang itu harus memotong tangannya sampai siku, lalu dipotong lagi di pangkal lengannya. Hingga seseorang menyarankan agar dia meminta maaf kepada orang yang dizhalimi. Allah berkehendak mempertemukan keduanya, dan penyakit tersebut tak lagi menjalar setelah orang yang dizhalimi memaafkannya.
📌 Begitulah balasan orang yang berlaku zhalim, seperti pepatah ‘menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri."
_______
BALASAN SESUAI PERBUATAN.
“Ada seorang laki-laki yang memiliki orangtua yang sudah lanjut usia. Dia sudah merasa lelah untuk melayani dan menuruti kemauan ayahnya itu. Hingga suatu ketika ia membawa orangtuanya ke perbukitan. Sesampainya di tempat yang dituju, dia menurunkan orangtuanya dari kendaraan. Orangtuanya bertanya keheranan, Apa yang hendak engkau lakukan terhadapku wahai anakku?” Dia menjawab, “Aku ingin menyembelih ayah!” Ayahnya berkata, “Jika kamu bersikeras untuk menyembelihku, maka sembelihlah aku di bukit yang sana, karena dahulu aku juga menjadi seorang anak yang durhaka, dan aku telah menyembelih ayahku di sana. Tapi ingat, kelak kamu juga akan mengalami hal serupa wahai anakku.”
📌 Betapa kejahatan dibalas dengan perlakuan serupa. Maka hendaknya kita pikirkan bagaimana kita memperlakukan orang lain, sebagaimana kaidah berlaku,
فكما تدين تدانو
"Sebagaimana kamu berbuat, maka seperti itu pula kamu akan diperlakukan."
_______
BALASAN SESUAI PERBUATAN.
“Seorang menteri di Baghdad telah merampas dengan paksa harta kekayaan seorang wanita tua. Segala harta milik wanita itu dijarah dengan cara licik. Lalu wanita itu datang menuntut haknya di hadapan sang menteri sambil menangis. Namun sang menteri tak mau peduli, tidak jera dan tidak mau bertaubat atas kesalahannya itu. Kemudian wanita itu mengancam, “Jika engkau tidak mengembalikannya juga, aku akan memohon kepada Allah agar engkau celaka.” Menteri itu malah tertawa mengejek seraya berkata, “Berdo’alah pada sepertiga malam.” Begitulah ucapan yang keluar dari orang yang fasik lagi pongah. Wanita itupun pergi meninggalkannya. Pada setiap sepertiga malam terakhir, ia selalu berdo’a. Tak berapa lama berselang, menteri itu dipecat dari jabatannya, dan seluruh harta bendanya disita. Ia diikat di tengah pasar dan dicambuk sebagai hukuman menurut ketentuan majelis hakim atas kekejamannya terhadap rakyatnya. Pada saat itu wanita tua itu lewat sambil melihat siapa yang sedang diikat itu. Begitu melihatnya, ia berkata, “Engkau benar, engkau telah menganjurkan kepadaku untuk berdo’a di sepertiga malam terakhir, ternyata terbukti bahwa sepertiga malam terakhir itu memang waktu yang terbaik.”
Begitulah, saat orang lalim yang merasa punya kuasa dan kekuatan dengan santai berbuat aniaya, dia lupa bahwa orang yang dizhalimi memiliki senjata ampuh untuk menjatuhkannya. Karena Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ
“Takutlah kamu terhadap doa orang yang dizhalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dengan Allah.” (HR Bukhari)
Maka orang yang menimpakan kezhaliman kepada orang lain, baik dalam bentuk menipu, mengambil harta orang lain dengan cara yang haram, menyakiti dengan lisan dan perbuatan, atau merusak kehormatan, dan yang ingin mencelakakan orang lain hakikatnya sedang menggali lubang untuk kuburannya sendiri. Sebagaimana dikatakan,
من حفر حفرتا لاخيه وقعأ فيها
"Barangsiapa menggali lubang untuk saudaranya, ia sendiri yang akan terperosok ke dalamnya."
- Borongan pahala amal kebaikan
- Satu niat utk beberapa amalan !!!
- Kaidah dalam masalah ini adalah
“Jika dua amalan ibadah berasal dari jenis yang sama , sifat atau cara amalannya sama, dan waktu pelaksanaanya juga sama, maka keduanya bisa dilakukan dengan hanya melakukan satu amalan saja”. Ini merupakan cabang dari salah satu kaidah utama dalam Kaidah Fiqh ;
“Al-Umuur bi Maqaashiidihaa” (suatu perkara –baik berupa amalan atau ucapan- tergantung pada tujuannya –atau niatnya- ).
Ibnu Rajab –rahimahullah- berkata (Al-Qawaa’id fil Fiqh: hal.23) ; “Jika dua ibadah dari jenis yang sama berkumpul dalam waktu yang sama, yang mana salah satunya tidak
dilakukan sebagai qadha atau sebagai tab’iyyah / ibadah yang mengikuti ibadah lainnya dalam waktu (seperti rawaatib -pent) , maka amalan-amalan keduanya saling berkaitan sehingga cukup melakukan keduanya dengan satu amalan saja”.
Syaikh AbdurRahman AsSa’di rahimahullah berkata (AlQawaa’id Wal-ushul Al-Jami’ah (90) ; “Jika dua ibadah dari jenis yang sama berkumpul, maka amalan-amalan keduanya saling berkaitan, sehingga cukup melakukan keduanya dengan satu amalan saja jika maksud kedua ibadah tersebut sama”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar